Apakah yang harus dilihat dari seseorang laki-laki yang datang dengan niat menikahi kita? Apa yang membuat kita perlu percaya akan sakinah bersamanya?
Banyak pertanyaan di kepala seorang muslimah, banyak dialog hati sebelum memutuskan menerima calon yang melamar.
- Tentang usia -- bukan perbedaan usia yang matters, tapi seberapa dewasa dia? seberapa siap dia ditempa ujian? ini penting!
- Penghasilan tak seberapa -- Pekerjaan/penghasilannya kini tak mencerminkan masa depannya. Alih-alih melihat penghasilan, saya akan mencoba melihat apakah dia gigih berusaha? apa dia pribadi yang rajin, ulet, teguh?
- Bagaimana dia memperlakukan saya setelah menikah? -- Bisa diamati lewat bagaimana dia memperlakukan Ibunya.
- Bagaimana pembelaannya terhadap umat? -- Saya ajukan syarat jika dia bersedia mengifakkan sebagian waktu saya yang menjadi miliknya, untuk umat.
Kriteria lain saat memutuskan menerima pasangan hidup, apakah dia mempunyai impian besar dalam hidupnya.
Dalam pernikahan bukan kata cinta setiap hari yang kita butuhkan, akan tetapi bagaimana membuat kita merasa dicintai setiap hari.
Istri dan anak-anak membutuhkan lelaki yang pandai mengelola waktu dan kokoh dalam memproses impian keluarga.
Istri membutuhkan seseorang bukan yang selalu mengiyakan tetapi yang bisa membantu saya membuat keputusan.
Suami adalah calon orang tua dari anak-anakmu. Bisakah melihat figurnya sebagai ayah? Ini penting!
Menikah bukan persoalan ingin. Menjadikan oernikahan media ibadah yang menguatkan pasangan juga anak-anak ke jalan-Nya perlu kesiapan.
Jika seseorang itu belum dihadirkan, jangan pasif. Tapi juga jangan agresif mengejar. Tapi agresif untuk membuat diri makin layak di sisi-Nya. Orang yang baik akan mendapatkan orang yang baik pula.
Kenali calonmu dengan caranya membuat excuse. Alasan/dalih itu penyakit. Tidak sehat untuk diri dan tidak sehat untuk keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar