Senin, 10 Februari 2014

Tentang Sebuah "Novel"

Tiga hari lalu dapet link tentang "Sepasang Kaos Kaki Hitam", yang pernah jadi HT di kaskus tahun 2011. Ga butuh waktu lama, dua hari Aku udah menyelesaikan "novel" itu. Karena menurutku ceritanya emang keren. Apalagi kalo ada embel-embel true story, pasti langsung menarik perhatianku.

Dalam novel itu ada beberapa quote yang Aku suka. Tapi yang menarik banget buat aku adalah quote dibawah ini:

Kenangan adalah cara Tuhan menyampaikan kepada kita bahwa ada senja yang tidak habis ditelan malam. Jika kita mau menyimpannya jauh sampai ke akar terdalam hati, dia akan tetap ada di sana. Itulah dia, yang tidak akan habis dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun.

Selain itu, ada  satu part yang bikin Aku tercenung sejenak.

"Mungkin nggak sih doa di malam ulang tahun tuh dikabulkan sama Tuhan?" Lisa mengaduk lemon tea nya.

"Hmm jelas mungkin lah. Kapanpun mau doa, Tuhan pasti denger kok," gw sok diplomatis.

"Apa cuma sebatas 'didenger' aja?" Lisa nampaknya memberi penekanan bahwa dia ingin gw tau dia punya satu doa yg seharusnya gw juga tau.

"Enggak juga. Pasti dikabulkan kok."

"Tapi kok ada beberapa doa gw yg dikabulkan Tuhan? Dari dulu lho, sampe sekarang."

Gw tertawa pelan. Gw juga sebenernya nggak terlalu paham sama masalah beginian. Harusnya Lisa curhat aja sama ustad. Hehehe.

"Gini deh, gw mau sedikit cerita, boleh?" kata gw dijawab anggukan kepala Lisa. "Mmmh..jadi gini. Suatu hari ada seorang pelukis dan asistennya yg lagi mengerjakan sebuah lukisan di atap gedung. Objek mereka saat itu adalah pemandangan kota dari ketinggian..."

Lisa memperhatikan secara saksama.

"...selesai lukisannya jadi, si pelukis sangat terkagum-kagum dengan hasil yg dia buat. Dia mulai nyoba ngeliat lukisannya dari arah-arah yg berbeda. Hasilnya tetep sama. Lukisan ini sangat indah di matanya, sementara sang asisten cuma senyum sendiri liat si pelukis yg mulai berjalan mundur, mencari sudut pandang yg lain..."

"......."

"...tanpa sadar, si pelukis berjalan ke ujung gedung. Asistennya kebingungan buat memperingatkan si pelukis. Kalau saat itu dia berteriak, si pelukis pasti terkejut dan malah kehilangan keseimbangan. Jadi si asisten segera ngambil pisau dan mulai ngerobek lukisan indah itu. Si pelukis yg heran kemudian berhenti jalan dan menghampiri asistennya. Dia marah besar. Tapi setelah diceritakan kejadian yg sebenernya, si pelukis menangis terharu dan berterimakasih ke asistennya.."

Lisa menatap gw kalem dari balik kacamatanya.

"Jadi gini loh. Kadang, kita ngerasa kita sudah melukis kehidupan kita dengan begitu indah. Tapi tiba-tiba aja Tuhan 'merusak' lukisan kita. Kita kecewa, tapi kita pasti akan mulai melukis lagi lukisan lainnya yg hasilnya pasti akan lebih baik dari lukisan sebelumnya," gw sedikit ngawur. "Percaya deh, Tuhan 'merusak' lukisan kita karena Tuhan tau ada 'lukisan' lain yg lebih indah yg bisa kita buat..."

Lisa terdiam. Gw juga diam. Sama-sama menatap kosong ke cangkir di depan kami. Lisa tampak mencerna cerita gw tadi. Dia mengangguk pelan.

"Oke. Jadi intinya jangan pernah berhenti berdoa sampe kita berhasil membuat guratan indah lukisan kita.." katanya pelan lalu tersenyum.


Part ini bikin Aku berfikir bahwa Aku harus melukis seindah-indahnya, karena bisa jadi itulah milikku selamanya. Tapi jangan pernah kecewa ketika lukisanku rusak, karena pasti akan ada lukisan lain yang akan menjadi lukisan terbaikku.

Sepasang Kaos Kaki Hitam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar