Jumat, 22 Oktober 2010

Siapa yang Tuli?

Ini adalah satu cerita menggelitik, namun penuh hikmah. Aku baru saja mendapatkannya di buku karangan Zabrina A. Bakar, yang berjudul Satu Tiket ke Surga

Kisah seorang suami yang merasa istri tercintanya mengalami masalah serius yaitu ketulian. Seringkali sang istri tidak menjawab ketika mereka sedang mengobrol. Untuk itu sang suami memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter keluarga, bagaimana cara menguji sang istri dengan cara yang paling halus. Karena sang suami tidak ingin sang istri tersinggung dengan mengajaknya memeriksakan diri ke dokter. Dokter menyarankan agar menguji dengan cara berbicara dengan nada normal pada jarak 30 langkah. Jika tidak menjawab, mendekatlah perlahan sambil mengulang pertanyaan yang sama.

OK, menurut sang suami cara itu cukup halus untuk menguji. Sesampai di rumah, istrinya sedang memasak. Sang suami mengira-ngira jarak 30 langkah yang dimaksud dokter. Ya, segini kurasa cukup, 30 langkah. Dan sang suami bertanya “hari ini menu kita apa Sayang?”. Tak ada jawaban, sang suami mendekat perlahan sambil terus mengulang pertanyaan itu. Sampai pada jarak yang sangat dekat, sang suami berbisik di telinga sang istri, masih dengan pertanyaan yang sama. Sang istri menoleh dan dengan agak kesal menjawab “ya ampuuuuun, untuk kesepuluh kalinya, Sayaaaang. Aku masak semur daging hari ini!”.

Aku terbahak pertama kali membaca cerita ini. Sang suami merasa sang istri tuli, ternyata sebenarnya dialah yang tuli. Dia begitu mudah menuduh sang istri, tanpa menganalisa terlebih dahulu siapa sebenarnya yang bermasalah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah merasa bahwa “istri” kita “tuli”? Astaghfirullah... Ternyata aku begitu sering mengira “istri”ku “tuli”. Sederhananya, begitu seringnya kita menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sesungguhnya bersumber dari diri kita sendiri. Ketika suatu masalah tiba-tiba muncul, yang muncul dibenak kita adalah “siapa”. Ya, siapa penyebabnya. Dan usaha untuk menemukan “siapa” nyaris tak pernah gagal. Yang pasti sedikit sekali yang menemukan jawabannya berupa “aku”. Mungkin sebaiknya kita perlu menyimak ini:

Barangsiapa melakukan kesalahan atau berbuat dosa, kemudian melontarkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka ia memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS. An-Nisa 4:112)

Astagfirullah, ini peringatan yang sangat menyentakku. Memikul kebohongan, itu sesuatu yang membuatku bergidik. Dan memikul dosa yang nyata, siapakah yang sanggup memikul dosa yang kita sendiri sadari bahwa itu adalah dosa.

“ketika telunjuk kita mengarah pada orang lain, maka empat jari yang lain mengarah pada diri kita sendiri”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar